kamoro-1

Suku Kamoro adalah kelompok adat yang mendiami sepanjang 300 km pesisir selatan Papua, di kawasan ujung timur Indonesia. Dari segi bahasa, mereka bersaudara dengan suku Asmat  yang tinggal di sebelah timur yang sangat terkenal karena kesenian mereka.

Jumlah penduduk Kamoro sekitar 18.000 jiwa  terbagi dalam kurang lebih 40 kampung. Sekitar 1.500 penduduk Kamoro tinggal di berbagai lokasi transmigrasi sekitar Kota Timika. Penduduk Kamoro memiliki satu bahasa bersama dan berbagi banyak ciri kebudayaan. Tanah Kamoro dimulai dari Teluk Etna di sebelah barat dan menyatu ke arah timur di kawasan Sempan, sebuah kelompok etnis yang masih bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.

Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu.

Kontak pertama antara penduduk Kamoro dan dunia luar kemungkinan terjadi dengan para pedagang dari Indonesia bagian barat yang mencari kulit kayu massoy (banyak digunakan untuk obat tradisional Jawa), bulu burung cenderawasih, getah damar untuk bahan penerangan dan mencari budak. Sebagai alat tukar, digunakan perkakas logam, gong dan kain-kain. Perubahan besar-besaran pada suku Kamoro terjadi pada tahun 1925 ketika sebuah pos pemerintah kolonial Belanda dan misi Katolik Roma didirikan di Kokonau. Maka segera terjadilah pengendalian kekuasaan dan penduduk Kamoro dipaksa/dibujuk untuk meninggalkan beberapa aspek kehidupan adat mereka misalnya upacara tindik hidung (tidak higienis), lalu mereka tinggal dalam kampung-kampung permanen dimana terdapat sekolah-sekolah dan rumah-rumah untuk satu kepala keluarga (lebih mudah dikendalikan), serta pemindahan kepercayaan dari animisme hingga memeluk agama Katolik Roma. Namun, menyusupnya dunia modern tersebut membawa pula segi-segi positif.

kamoro-2

Tersembunyi oleh zona bakau yang terkaya dan berlimpah di dunia, masyarakat Kamoro yang sebelumnya menjalani kehidupan yang semi-nomadis (mengembara), memindahkan milik mereka yang tak seberapa antara hutan-hutan pohon sagu (yang dimulai dari kawasan pedalaman terjauh pada zona arus pasang) dan kawasan penangkapan ikan yang amat berlimpah di dekat pantai. Walaupun ada desakan-desakan yang cukup kuat dari dunia luar, masyarakat suku Kamoro tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang semi-nomadis. Banyak sekali alasan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka di desa untuk beberapa hari atau beberapa minggu: akses terhadap basis kekayaan alam yang lebih luas, peluang-peluang untuk bergaul dengan teman dan saudara, tidak perlu tunduk pada perintah-perintah dan kegiatan rutin di desa dan bagi anak-anak, hal ini merupakan liburan yang menyenangkan dan tidak perlu sekolah.

Makanan pokok penduduk Kamoro adalah sagu yang dibuat dengan cara menebang pohon palem sagu, membelah intisari batang pohon dan menghanyutkan bagian sagu/karbohidrat yang murni dari serat-serat selulosa. Sementara hal ini merupakan kerja berat sesaat, namun tidak mengeluarkan tenaga seberat pembudidayaan selanjutnya, yaitu menjadikannya makanan siap-santap, baik dalam bentuk beras, gandum, jagung atau jenis biji-bijian lainnya.

Suku Kamoro juga suka berburu untuk mendapatkan makanan. Jenis hewan yang terutama diburu adalah babi liar, kasuari dan kuskus. Hewan lain termasuk ikan, buaya air tawar dan buaya laut, kadal bakau dan beragam jenis burung baik untuk dikonsumsi telur maupun dagingnya.

Tugas utama kaum wanita adalah menjamin agar ada cukup bahan makanan untuk tiap kali bersantap. Di samping makanan pokok sagu, tiap hari mereka mengayuh perahu lesung  untuk mencari kayu bakar, udang dan moluska. Sejumlah besar gastropoda juga dikumpulkan untuk dimakan. Ada cukup banyak jenis krustasea (binatang berkulit keras) yang ditangkap, namun yang terutama adalah kepiting bakau untuk dikonsumsi di rumah serta untuk dijual.

Penduduk Kamoro bukan petani. Walau mereka telah diarahkan selama berpuluh-puluh tahun, makanan dari tumbuh-tumbuhan masih merupakan jumlah kecil bahan pangan mereka.

Sebagaimana halnya di Afrika, Oseania, di antara suku Dayak dan dimanapun, warga Kamoro mampu menghasilkan patung-patung yang sangat mengagumkan, benda-benda seni penuh ekspresi namun dengan garis-garis dan perkakas yang amat sangat sederhana. Jenis kesenian yang demikianlah yang memberi ilham kepada banyak pelukis modern, terutama para penganut aliran kubus dan terutama Pablo Picasso yang lukisan ternamanya Les Demoiselles D’Avignon menampilkan wujud-wujud wanita dengan dua wajahnya seperti topeng-topeng Afrika.
(Redaksi)bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.

Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu.