Home > Articles > “Hidup Kekal” menjadi Topik Rekoleksi Tokoh Amungme
Pastor John Bunay Pr menyajikan rekoleksi iman para tokoh adat Amungme di Timika Papua Agustus 2016

Pastor John Bunay Pr menyajikan rekoleksi iman para tokoh adat Amungme di Timika Papua, Selasa, 9 Agustus 2016. (bobi/LPMAK/Agustus 2016)

Perbuatan model apa yang mesti diperbuat oleh manusia untuk hidup yang kekal? Refleksi tersebut disajikan Pater John Bunay Pr, dalam kesempatan rekoleksi yang difasilitasi oleh Biro Adat dan Agama Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) di Hotel Serayu Timika Papua, Selasa (9/8).

Pengantar refleksi tersebut, Pastor John Bunay, Pr mengatakan kita merefleksikan, berpikir sama-sama dan berbuat sama-sama. “Sesuatu yang baik, kita mesti memulai sekarang. Maka bukalah matamu dan lihatlah. Bukalah telingamu dan dengarlah,” sambut Pastor yang mengantongi tugas resmi sebagai imam berkeliling tersebut, ketika mengawali refleksi bagi tokoh Amungme di Timika, Kabupaten Mimika.

Refleksi tersebut sebagai evaluasi diri, iman para pelaku tokoh masyarakat setempat di lembaga adat, Lembaga Musyawarah adat Suku Amungme (LEMASA). Lembaga adat tersebut dilaporkan mengalami dualisme kepemimpinan adat selama beberapa tahun belakangan.

Tanpa mengurai persolana internal LEMASA, Pastor John Bunay meringkas refleksi secara umum. Kata Pastor, pengaruh budaya modern, miskomunikasi, serta perkembangan teknologi menciptakan situasi kehidupan manusia kepada jaman baru, budaya baru.

Salah satu dampak buruk dalam situasi tersebut, kata Pastor Projo Keuskupan Jayapura itu, sikap dan tindakan konsumerisme. “Dalam situasi serba baru, jaman baru, sikap dan tindakan baru seperti ini, nilai-nilai budaya atau tanah dan tempat hidup kita sebagai Surga, wajib dipertanyakan,” ajaknya mencontoh sikap dan tindakan iman kristen akhir dekade ini.

Lanjutnya, dahulu keluarga dan kerabat rajin ke gereja tiap hari minggu. Malah keluarga hidup aman dan bahagia. Di waktu silam, tak terjadi perpecahan dalam masyarakat adat. Selama itu pula, masyarakat hidup aman dan damai melangsungkan kehidupan pribadi maupun berkelompok.

Pekembangan tersebut, menghantar kepada pengaruh mentalisme buruk, individualis. Meremehkan dan menilai negatif terhadap sesama. Tak sadar diri, malah stress, berdampak buruk pada psikologi manusia.

“Spiritual hancur, mengutamakan hiburan, berfoya-foya sementara istri dan anak menderita dan sengsara, terlantar di rumah. Situasi ini menghancurkan manusia. Meninggalkan Tuhan, manusia berpaling kepada kehidupan neraka. Kebinasaan kekal!” ajaknya berilustrasi dengan sejumlah media dan sarana refleksi iman.

Bagi Lembaga adat atau tokoh masyarakat adat, kata Pastor, bertahun-tahun lamanya warga lokal mendapat dana bantuan PT Freeport Indonesia. “Kita mesti berpikir tentang masa depan. Ketika operasi tambang raksasa, PT Freeport habis waktu, tidak menghasilkan emas dan tembaga. Bagaimana nasib anak dan cucu?” ungkitnya menyimak situasi umum di Mimika.

Tokoh Masyarakat setempat, Andreas Anggaibak mengajak agar tokoh masyarakat dan generasi muda asal Amungme untuk bersatu. “Orang-orang tua Amungme sekarang tidak ada. Sudah mati, sekarang tersisa beberapa orang. Kita harus bersatu untuk atur kehidupan yang baik demi masa depan anak dan cucu!” kesan Andreas Anggaibak, yang juga ketua Badan musyawarah LPMAK itu. (willem bobi)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*