Sekilas Tentang Suku Kamoro

LPMAK Timika – Papua | 11 June 2019
Masyarakat Suku Kamoro ketika menyambut kedatanan tamu dengantarian adat. (MISKAN/LPMAK)


SEBELUM terbentuknya Kabupaten Mimika, pusat pemerintahan di daerah Mimika bermarkas di Kaokanao. ‘Kaoka’ berarti perempuan dan ‘nao’ berarti bunuh. Munculnya kata Kaokanao sendiri berasal dari Perang Hongi, dimana semua perempuan harus dibunuh.

Kabupaten Mimika dibentuk pada 8 Oktober 1996 setelah selama tiga tahun berstatus administratif. Mimika secara resmi menjadi kabupaten definitif pada awal 2000. Dengan perubahan ini maka Mimika diharapkan dapat tumbuh berkembang dengan kekuatannya sendiri seperti daerah lainnya.

Bicara Mimika tak lepas dari Suku Kamoro, suku yang memiliki hak ulayat yang terbentang dari Potowaiburu hingga Nakai.

Pada masa silam, orang Kamoro lebih dikenal dengan sebutan Mimika We. Sepanjang laporan penelitian dan berbagai laporan, tidak ada arti yang jelas mengenai kata Kamoro, namun berdasarkan cerita yang diperoleh bahwa kata Kamoro berasal dari hewan atau binatang komodo.

Sebab itu, menurut masyarakat Kamoro, mereka berasal dari daging hewan yang dibunuh dan dipenggal-penggal oleh nenek moyang mereka dan kemudian daging tersebut berubah wujud menjadi orang Kamoro. Ada versi lain, hukum adat Kamoro mulanya berasal dari udik Sungai Kamoro, yang kemudian menyebar luas memenuhi sepanjang pantai Barat Daya Papua, yaitu Potowaiburu hingga ke Sungai Otakwa.

Asal-usul Suku Kamoro memiliki cerita sendiri-sendiri dari tiap-tiap kampung. Ada cerita salah seorang peneliti yang mengemukakan bahwa orang Kamoro berasal dari komodo yang terletak di sungai bagian Timur daerah Mimika. Cerita ini bermula dari, ditemukannya sebutir telur oleh seorang anak kecil di tepi pantai. Kemudian si anak membawa ke rumahnya. Telur  tersebut tidak dimasak, tidak juga dirusak, malahan si anak menyimpan dan merawatnya. Selang beberapa hari kemudian telur  tersebut menetas. Tetasan tersebut adalah seekor komodo.

Hari ke hari, komodo tersebut bertumbuh dan lama-kelaman menjadi besar dan dewasa. Komodo yang besar tersebut, diluar dugaan memakan seluruh penduduk dikampung tersebut, yang tersisa hanya seorang ibu yang tengah hamil.

Setelah penduduk itu habis dimakan, komodo itu beristirahat di sebuah pulau. Pada saat itu, ibu tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang segera tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa. Di sini anak tersebut mendengar cerita dari ibu-nya tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Maka timbul niat dari anak ini untuk balas dendam. Ibu itu bernama Mbirokateya sedangkan anaknya bernama Mbirokateyau.

Dalam upaya membunuh hewan komodo, Mbirokateyau mendapat petunjuk dari para leluhurnya lewat mimpi. Mimpi ini mulai dijalankannya dengan mendirikan empat buah rumah berturut-turut, dari arah tepi pantai ke bagian darat. Rumah pertama (kewa kame), rumah kedua (tauri kame), rumah ketiga (kaware kame) dan rumah keempat (ema kame).

Rumah keempat ditempati oleh ibunya dan rumah pertama ditempati oleh si anak ini sambil memukul tifa dan bernyanyi seakan-akan sedang berpesta. Hal ini dilakukan untuk memberi perhatian kepada komodo tersebut, yang menyangka bahwa tidak ada manusia lagi disekitarnya.

Situasi ini mengundang komodo ini menyerang rumah tersebut. Saat hewan itu memporak-porandakan rumah, maka peralatan yang digunakan untuk menghujani tubuh hewanlah yang telah  menyelamatkan si anak dari rumah kedua sampai rumah keempat, dan akhirnya komodo ini mati tertimpa alat-alat perang.

Kemudian si anak memotong da-ging-nya menjadi empat bagian dengan ukuran yang sama besar dan me-lemparkannya ke empat penjuru mata angin. Lemparan pertama kebagian Timur sambil berkata Umuru we yang kemudian dipercaya telah menjadi orang Asmat di Merauke.

Lemparan kedua diarahkan kebagian Barat sambil berkata Kamoro we dan akhirnya tercipta manusia Suku Kamoro. Lemparan ketiga ke arah Utara yang akhirnya tercipta orang pegunungan dan lemparan keempat diarahkan ke bagian Selatan sambil berkata Semopano we, yang akhir-nya menjadi suku Sempan di Timika.

Ada juga cerita lain yang menyatakan bahwa orang Kamoro mula-mula bertempat tinggal di pulau yang bernama Nawapinaro yang terletak dibagian timur daerah Mimika. Suatu saat dilaksanakan pesta adat Karapao adalah tauri yang merupakan pesta inisiasi bagi anak-anak yang hendak memasuki masa remaja (dewasa). Menurut adat yang mengikuti pesta harus memiliki orang tua dan sanak saudara sebagaimana syarat-syarat pesta adat tersebut.

Diantara orang-orang itu, ada dua orang kaka beradik yaitu Aweyau dan Mimiareyau, yang hidup dalam pemeliharaan wali orang tuanya. Sehingga mereka tidak diperkenankan mengikuti pesta adat tersebut. Mereka tersisih dari teman sebayanya.

Perasaan ini menimbulkan rasa cemburu dan muncul ide untuk membuat keributan pada saat pesta berlangsung. Mereka berdua mengenakan topeng setan untuk menakut-nakuti orang yang sedang berpesta.

Peserta pesta adat yang melihat itu, kemudian melarikan diri menuju arah barat dengan menggunakan perahu, kemudian menempati sungai-sungai yang kini merupakan daerah Mimika dari bagian timur hingga ke bagian barat jauh yang sekarang sudah menjadi batas wilayah Kamoro.

Orang Kamoro memiliki ciri-ciri fisik seperti, wanita dan pria rata-rata memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap karena keadaan alam (di pesisir pantai), warna kulit hitam, hidung mancung dan rambut keriting.

Orang Kamoro tidak mengenal sis-em pertanian sehingga mereka kem-bali kepada kehidupan mereka se-bagai nelayan dan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain (nomaden). Mereka me-miliki semboyan, yaitu 3S (sungai, sampan, sagu).

Sungai merupakan salah satu arus utama aktivitas Suku Kamoro, se-hingga mereka membutuhkan sampan untuk melakukan aktifitas sehari-hari.

Rasa sosial yang begitu kuat, membuat masyarakat Kamoro selalu berbagi dengan sesamanya. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Ka-moro sehari-hari, mereka  biasanya melakukan aktivitas seperti memangkur sagu, melaut dan meramu. Berbagai makanan khas masyarakat Suku Kamoro antara lain  tambelo,  sagu, ulat sagu juga  siput dan karaka.

Pada awalnya, orang Kamoro menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Namun setelah masuknya agama Katolik pada 1928 yang dibawa oleh seorang pater bernama Cornelles Lecoq Darmanville, masyarakat Kamoro mulai mengenal agama. Sebab itu, sebagian besar masyarakat Kamoro memeluk agama Kristen Katolik. (thobias maturbongs)



Radio Online LPMAK
Media Sosial Kami
Twitter LPMAK

LPMAK Fanpage

SEJARAH KAMI

Pemerintah Provinsi Irian Jaya dan PT Freeport Indonesia (PTFI) pada bulan April 1996, memprakarsai suatu rencana pembangunan di kawasan operasi perusahan dengan sasaran utama pada sejumlah Kampung asli Amungme dan Kamoro di seputar kota Timika.

Rencana tersebut tidak berjalan mulus, hingga terbentuklah Program Pengembangan Masyarakat Timika Terpadu (PWT2) yang cakupannya lebih luas meliputi warga suku Amungme dan suku Kamoro serta kekerabatan lima suku yang berdomisili di Mimika.

Lembaga PWT2 telah mengelola Dana Kemitraan PTFI yang dialokasikan sebesar dari 1% penghasilan PTFI sebelum dipotong pajak dan kewajiban lainnya. Dua tahun kemudian pada bulan Agustus 1998, Masa transisi dan reposisi lembaga, di mana seluruh program yang dilakukan PWT2 dihentikan.

Baca selengkapnya ...

HUBUNGI KAMI :
Kantor Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso (Eks Incubator PTFI) Timika,
Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321521, 322450, 3217563.
Faks : 0901 – 321933, 323505.
Kantor Urusan Program :
Jalan Ahmad Yani, No. 68 A. Timika, Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321817, 322888.
Faks: 0901 – 323318.
Website : www.lpmak.org
Facebook : lpmak
Twitter : @lpmak_
Website: lpmak.org
Peta Lokasi